Langsung ke konten utama

Mei

Reformasi pada mulanya adalah frustrasi. Ketika demokrasi dipasung, media diberangus, kebebasan jadi barang langka dan karena itulah orang mengumpat. Umpatan, kala itu adalah kata yang sakral. Orang tak cukup berani berteriak lantang menentang – karena setelahnya: hilang atau dihilangkan.
Saya masih di Sekolah Dasar ketika reformasi bergulir. Saya yang seperti kebanyakan orang tidak tahu menahu hanya bisa pasang kuping pada siaran Pagi RRI. Itu di tahun 1998. Dari siaran itu, saya jadi tahu bahwa ada kebebasan yang dibelenggu, ada demonstrasi di Jakarta, ada mahasiswa yang ditembak mati.
Dua puluh tahun pasca reformasi, udara kebebasan dihirup secara bebas. Demokrasi tak lagi dikebiri, pers bebas memberitakan apa saja, orang-orang boleh berteriak lantang menentang ketidakadilan, dan kritik tak lagi haram. Kita ada di era kebebasan, kata teman saya.
Reformasi tak semuanya berhasil. Agenda reformasi terutama pembangunan belum purna. Masih ada ketimpangan – Timur VS Barat, Utara VS Selatan. Korupsi malah makin merajalela. Media-media jadi bebas – sebebas-bebasnya – sama halnya dengan manusia Indonesia yang makin bebas dan tak tahu batas.
Kekerasan SARA makin menggila, terorisme tumbuh subur, aksi persekusi dan anarki merajalela di media sosial maupun di dunia nyata. Reformasi dalam hal ini barangkali hanya pemindahan kekuasaan dari tunggal ke jamak – dari satu orang ke banyak orang. Orang-orang dengan mudahnya mencap, melabeli orang lain kemudian diserang secara membabibuta atas nama agama dan kepentingan.
Saya ingat satu kelompok anak bangsa pada bulan Mei ini. Kelompok yang kerap jadi sasaran persekusi, anarki, dan terror. Akankah reformasi lahir lagi? Mungkin tidak. Reformasi tidak lahir dari kepanikan.
Reformasi tidak lahir dari nalar yang loyo yang untuk menjawab 1 + 1 saja masih pikir-pikir. Reformasi juga butuh obat kuat sebagai peyeimbang. Ia butuh vitamin – meningkatkan nafsu penggagasnya.
#RonaldAdipati

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bertolaklah ke Tempat yang Terpencil

Pengantar Sosialiasi para Cabub dan Cagub 2018 di wilayah NTT ini terkesan elitis. Mereka hanya menyambangi wilayah-wilayah perkotaan yang gampang dijangkau dengan mobil dan jalan kaki. Kapan kampung kami dijadikan sebagai tempat mereka menyosialisasikan diri jika mereka tidak pernah ke sini? Bagaimana mereka tahu masalah di kampung kalau sasaran sosialisasinya hanya di kota dan pinggirannya? Atau apakah mereka hanya menjadi bupati dan gubernur orang kota saja? Itu salah satu keluh kesah dari warga Desa Compang Necak, Kecamatan Lambaleda, Kabupaten Manggarai Timur kepada penulis saat liburan Natal dan Tahun Baru kemarin.  Keluh kesah dan Bahasa Setan Keluh kesah dalam KBBI artinya segala ucapan yang terlahir karena kesusahan juga kepedihan. Keluh kesah bisa jadi beban pribadi juga kolektif warga masyarakat. Ia selalu lahir dari etalase ketertinggalan, keterpinggiran - dari sebuah isolasi.  Parade kepincangan pembangunan antara satu wilayah dan wilayah lain merup...