Langsung ke konten utama

Pengalihan Isu??????


Sumber gambar: Google

Menarik mencermati reaksi netizen NTT terkait OTT KPK terhadap Bupati Ngada Marianus Sae. Bupati fenomenal itu, yang sekaligus merupakan kuda hitam dalam perebutan kursi Gubernur NTT malam ini sudah menginap di KPK untuk diperiksa.

Ada melompat ria, ada yang menangis duka, itu wajar. Apalagi jika melihat reaksi massa NTT ketika marianus diumumkan sebagai Cagub berpasangan dengan Emi Nomleni. Marianus jadi kuda hitam yang tiap hari rating pemberitaannya di NTT terus menanjak. 

Salah satu akun facebook mengugkapkan secara nyata dan gamblang bahwa penangkapan MS adalah pengalihan isu. 

Itu pengalihan isu terkait penyerangan gereja di Yogyakarta, itu statusnya. 

Benarkah? 
Ditilik dari segi hari kejadian yng hmpir bersamaan, bisa jadi, iya!!! Mari lihat dari kacamata NTT. 

NTT, bagaimanapun merupakan Propinsi yang paling kencang menyuarakan kecaman terhadap pelaku penyerangan dalam gereja di Yogyakarta. NTT ditilik dari sudut pandang agama merupakan sebuah Propinsi yang memiliki basis Kristen terbesar di Indonesia. Kejadian di Yogya merupakan sebuah penghinaan terbesar dalam sejarah, apalagi saat ibadat.

Kencangngnya reaksi NTT tentu menimbulkan ketakutan tersendiri bagi pemerintah. Jika tidak segera di atasi maka akan menimbulkan bom waktu bagi pemerintah serta toleransi di tanah NTT. 

Pengalihan Isu?
Dalam konteks reaksi terhadap penyerangan gereja di Yogyakarta, reaksi NTT memang terbilang keras dan sedikit vulgar. Jika minoritas di negeri ini diinjak-injak maka NTT akan bangkit melawan, itu mungkin pesan dari reaksi NTT.

Bagaimana dengan penangkapan MS?
MS (saya menyingkat namanya) merupakan salah satu Cagub yang paling fenomenal dalam konteks Pilkada NTT. Saya tidak menyangsikan bahwa MS adalah kuda hitam dalam kontestasi Cagub NTT. 

Reaksi NTT yang massif terhadap hadirnya MS dalam pentas perpolitikan Cagub NTT menjadi momok menakutkan bagi lawan politiknya. Kemampuan memahami medan NTT, menerobos batas, menggempur isolasi menggunakan trail adalah modal terbaik untuk bersosialisasi dan menyapa masyarakat. 

Setelah berita penangkapannya, ribuan mata mungkin terisi butiran-butiran bening di ujung pelupuk.

Apakah Marianus di jebak? Saya tak tahu pasti soal ini. Berdasarkan pengakuan KPK, mereka memang sudah lama mengendus pergerakan MS. Bahwa ada aliran dana yang tak wajar ke MS merupakan modal KPK menangkap beliau dalam OTT. 

Setelah berita penangkapan MS, berita penyerangan gereja di Yogyakarta menjadi redup dan kehilangan gaungnya. Masyarakat NTT tak lagi fokus ke sana tetapi fokus membahas penangkapan MS, Cagub fenomenal, sang peneroboso isolasi dari NTT. 

Bisa iya, bisa tidak! Tergantung kelihaian membaca peta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Bertolaklah ke Tempat yang Terpencil

Pengantar Sosialiasi para Cabub dan Cagub 2018 di wilayah NTT ini terkesan elitis. Mereka hanya menyambangi wilayah-wilayah perkotaan yang gampang dijangkau dengan mobil dan jalan kaki. Kapan kampung kami dijadikan sebagai tempat mereka menyosialisasikan diri jika mereka tidak pernah ke sini? Bagaimana mereka tahu masalah di kampung kalau sasaran sosialisasinya hanya di kota dan pinggirannya? Atau apakah mereka hanya menjadi bupati dan gubernur orang kota saja? Itu salah satu keluh kesah dari warga Desa Compang Necak, Kecamatan Lambaleda, Kabupaten Manggarai Timur kepada penulis saat liburan Natal dan Tahun Baru kemarin.  Keluh kesah dan Bahasa Setan Keluh kesah dalam KBBI artinya segala ucapan yang terlahir karena kesusahan juga kepedihan. Keluh kesah bisa jadi beban pribadi juga kolektif warga masyarakat. Ia selalu lahir dari etalase ketertinggalan, keterpinggiran - dari sebuah isolasi.  Parade kepincangan pembangunan antara satu wilayah dan wilayah lain merup...

Mei

Reformasi pada mulanya adalah frustrasi. Ketika demokrasi dipasung, media diberangus, kebebasan jadi barang langka dan karena itulah orang mengumpat. Umpatan, kala itu adalah kata yang sakral. Orang tak cukup berani berteriak lantang menentang – karena setelahnya: hilang atau dihilangkan. Saya masih di Sekolah Dasar ketika reformasi bergulir. Saya yang seperti kebanyakan orang tidak tahu menahu hanya bisa pasang kuping pada siaran Pagi RRI. Itu di tahun 1998. Dari siaran itu, saya jadi tahu bahwa ada kebebasan yang dibelenggu, ada demonstrasi di Jakarta, ada mahasiswa yang ditembak mati. Dua puluh tahun pasca reformasi, udara kebebasan dihirup secara bebas. Demokrasi tak lagi dikebiri, pers bebas memberitakan apa saja, orang-orang boleh berteriak lantang menentang ketidakadilan, dan kritik tak lagi haram. Kita ada di era kebebasan, kata teman saya. Reformasi tak semuanya berhasil. Agenda reformasi terutama pembangunan belum purna. Masih ada ketimpangan – Timur VS Barat, Utara VS S...